Bakso Sehat Dari Keong Mas Sebagai Alternatif Pengganti Daging Sapi

I. Pendahuluan
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alamnya, baik tumbuhan maupun hewannya. Hewan jenis mollusca merupakan salah satu sumber daya alam yang melimpah di berbagai penjuru nusantara. Akan tetapi belum banyak dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Sebagai contohnya keong mas.
Siput sawah dengan warna cangkang keemasan, atau yang lebih dikenal sebagai keong mas, menjadi pemakan tanaman padi yang rakus di persawahan milik petani. Keong mas yang konon berasal dari Amerika Latin ini, menempelkan telurnya di batang padi yang mulai dewasa. Setelah menetas, keong-keong ini langsung mengkonsumsi batang padi hingga akhirnya menimbulkan kematian pada tanaman padi. Jika tidak dimusnahkan, hama ini jelas akan melahirkan mimpi buruk bagi para petani karena panen mereka terancam gagal. Yang meresahkan petani, pembiakan keong mas sangat cepat sehingga para petani kewalahanan membasminya.
Selama ini kebanyakan orang memanfaatkan keong hanya untuk pakan ternak. Padahal keong mas memiliki kandungan gizi yang sangat tinggi. Daging keong mas ini mengandung protein dalam kadar tinggi. Dengan tehnik pengolahan yang tepat, daging keong mas bisa dijadikan sebagai bahan makanan. Dari dagingnya, bisa dibuat tepung, sate, kerupuk, keripik, rica-rica, dan lain-lain. Akan tetapi belum banyak yang memanfaatkan daging keong untuk dibuat bakso, padahal bakso merupakan makanan yang cukup tinggi penikmatnya.

B. Identifikasi Masalah
1. Masih banyak hewan mollusca yang belum dimanfaatkan.
2. Daging keong mas sebagai alternatif sumber protein.
3. Metode pengumpulan dan pengolahan daging keong mas.
C. Batasan Masalah
1. Daging yang digunakan adalah daging keong mas (pomacea canaliculata) yang berasal dari Bumirejo, Lendah, Kulon Progo.
2. Keong mas dewasa memiliki cangkang yang berdiameter sekitar 4 sentimeter dan berat 10-20 gram.(sebesar bola ping pong)
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang diuraikan diatas, maka permasalahan yang dibahas dalam proposal ini adalah :
1. Apakah kandungan gizi yang terdapat dalam daging keong mas?
2. Bagaimanakah cara membuat bakso dari daging keong mas?
E. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui kandungan gizi yang terdapat dalam daging keong mas.
2. Mengetahui cara membuat bakso dari daging keong mas.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian yang kami lakukan antara lain :
1. Bagi peneliti
a. Meningkatkan kreativitas dalam mengidentifikasi masalah.
2. Bagi Masyarakat
a. Menambah wawasan tentang daging keong mas.
b. Mengetahui manfaat daging keong mas sebagai alternatif sumber protein.
c. Bagi petani, daging keong mas dapat meningkatkan nilai ekonomis dengan dibuat menjadi bakso.

II. Tinjauan Pustaka
A. Bakso
Bakso atau baso adalah bola daging. Bakso, merupakan makanan yang sangat populer di kalangan masyarakat kita. Hampir di setiap tempat dapat kita jumpai produk ini. Di pasar-pasar, di pinggir jalan, di pondokan, pedagang keliling sampai di pasar swalayan.
Bakso yang biasa kita kenal dikelompokkan menjadi bakso daging, bakso urat, dan bakso aci. Bakso daging dibuat dari daging yang sedikit mengandung urat, misalnya daging bagian penutup atau bagian gandik, dengan penambahan tepung yang lebih sedikit. Bakso urat terbuat dari daging yang mengandung jaringan ikat atau urat, misalnya daging iga. Bakso acin adalah bakso yang penambahan tepungnya lebih banyak dibanding dengan jumlah daging yang digunakan. (http://tokomesinbakso.com )

B. Keong
Klasifikasi keong mas
Keong mas (Pomacea canaliculata) atau dikenal GAS (golden apple snail) sering dianggap biang kegagalan panen padi. Keong mas merupakan salah satu jenis moluska. Selain menjadi hama padi, keong mas sebenarnya juga memiliki potensi ekonomi cukup tinggi kalau bisa memanfaatkannya.
Keong ini berasal dari rawa-rawa di Amerika Selatan seperti Brazil, Suriname, dan Guatemala. Pertama kali, keong mas didatangkan dari Taiwan sekitar tahun 1980-an. Tahun 1981, hewan ini diintroduksi ke Yogyakarta sebagai fauna akuarium. Sekitar tahun 1985-1987, hewan ini menyebar dengan sangat cepat dan populer di Indonesia.

Moluska jenis ini hidup di perairan jernih, bersubstrat lumpur dengan tumbuhan air yang melimpah. Menyukai tempat-tempat yang aliran airnya lambat, drainase tidak baik dan tidak cepat kering. Keong mas dapat bertahan hidup sampai 6 bulan di dalam tanah yang mengalami kekeringan. Hewan ini dapat hidup pada air yang memiliki pH 5-8, serta toleransi suhu antara 18-28 derajat Celsius. Pada suhu lebih tinggi, keong mas makan lebih cepat, bergerak lebih cepat, dan tumbuh lebih cepat. Pada suhu yang lebih rendah, keong mas masuk ke dalam lumpur dan menjadi tidak aktif. Pada suhu di atas 32 derajat Celcius, hewan ini memiliki tingkat mortalitas yang tinggi.
Keong ini termasuk hewan berjenis kelamin tunggal. Perkawinan keong mas dapat dilakukan sepanjang musim. Seekor keong mas mampu memproduksi sekitar 1.000-1.200 butir telur tiap bulan atau 200-300 butir tiap minggu. Stadium paling merusak ketika keong mas berukuran 10 mm (kira-kira sebesar biji jagung) sampai 40 mm (kira-kira sebesar bola pingpong).
Di awal siklus hidupnya, induk keong meletakkan telur di tumbuhan, galengan dan barang lain seperti ranting dan air pada malam hari. Telur menetas setelah 7-14 hari. Menurut Susanto (1995), keong mas muda yang baru menetas dari telur berukuran 1,7-2,2 mm langsung meninggalkan cangkang telur dan masuk ke dalam air. Dua hari kemudian, cangkang keong tersebut menjadi keras.
Keong mas muda berukuran 2-5 mm telah memakan alga dan bagian tanaman yang lunak. Pertumbuhan awal berlangsung selama 15-25 hari. Pada umur 26-59 hari, keong mas sangat rakus mengkonsumsi makanan, sedangkan setelah berumur 60 hari, keong mas siap untuk berkembang biak. Keong mas memerlukan sekitar 3-4 jam pada saat mengadakan perkawinan di daerah yang senantiasa mendapatkan air sepanjang tahun.
Keong mas dewasa memiliki cangkang yang berdiameter sekitar 4 sentimeter dan berat 10-20 gram. Pertumbuhan cangkang dipengaruhi oleh ketersediaan kalsium sebagai bahan pembentuk cangkang. Selain itu, lingkungan yang kaya dengan zat-zat makanan akan membentuk cangkang yang lebih besar, tebal dan kuat. Hewan ini dapat hidup 2-6 tahun dengan fertilitas yang tinggi.
Hewan ini dapat menyerang tanaman padi muda, baik di persemaian maupun bibit yang baru dipindahkan ke sawah. Dengan kepadatan populasi sekitar 10-15 ekor per meter persegi, keong mas mampu menghabiskan padi muda dalam waktu 3 hari jika air sawah dalam keadaan tergenang dan menimbulkan kerusakan yang cukup berat bagi daerah persawahan (Ismon, 2006). Para petani juga kerap kehilangan bibit yang ditanam dan harus menyulamnya kembali.

Mulanya keong mas disenangi masyarakat, tapi lama-kelamaan akibat dibiarkan lepas tanpa pengawasan, hewan ini masuk ke sawah dan menjadi hama utama tanaman padi. Tahun 1986, tercatat sekitar 300 hektar sawah irigasi di wilayah Filipina mengalami rusak berat. Tahun 1987 serangan meningkat, menjadi sekitar 9.000 hektare, dan bulan Januari 1990 sudah mencapai 350.000 hektare. Dari 3 juta hektare sawah di Filipina, sekitar 1,2 sampai 1,6 juta hektare terserang keong ini. Pada tahun 1990, sekitar 212 juta Peso diperlukan untuk mengendalikan hama ini.

Pada tahun 1989, Badan Pangan Dunia (FAO) menduga bahwa kekurangan hasil panen yang disebabkan hama ini berkisar antara 1-40 persen dari areal sawah di Filipina, sehingga menyebabkan kehilangan produksi cukup besar. Di negeri kita kasus kegagalan panen hampir terjadi di seluruh provinsi, mulai dari Sumatera, Jawa, Sulawesi sampai Papua.
Di Indonesia khususnya di Kabupaten Lampung Selatan pernah dilaporkan bahwa sampai bulan Juni 1992, serangan keong mas telah mencapai 4.500 hektare dengan rata-rata populasinya antara 2-23 ekor per meter persegi. Menurut Susanto (1995), sejak keong mas dibudidayakan pada tahun 1987 dan diadakan pemantauan sekitar tahun 1990, tercatat 8 provinsi sudah terkontaminasi keong mas. Daerah tersebut adalah Sumatera Utara, Jambi, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Akhir-akhir ini penyebarannya semakin luas, bahkan sampai wilayah Kalimantan, Sulawesi dan wilayah lainnya. Keong mas sangat mengganggu lahan pertanian sehingga disebut hama unggul, karena memakan segala tanaman terutama tanaman padi muda dan bibit.
(http://www.flobamor.com/forum/hewan-dan-tumbuhan/5340-keong-mas-%94si-lelet%94-perusak-padi.html)
Kandungan Dan Manfaat Keong Mas

Keong mas diketahui mengandung asam omega 3, 6 dan 9. Dari hasil uji proksimat, kandungan protein pada keong mas berkisar antara 16 hingga 50 persen. Selain banyak mengandung protein, hewan dari keluarga mollusca ini juga kaya akan kalsium.

Keong Mas (pomacea canaliculata) dapat bermanfaat untuk
1. Meningkatkan kecerdasan,
2. Meningkatkan libido,
( Dr. Sumitro dlm Sinar Tani).

Selain itu, di beberapa daerah, keong mas diolah menjadi berbagai jenis masakan seperti sate, pepes, sambal keong, hingga kecap keong.

Penggunaan keong mas untuk pakan itik terbukti mampu menaikkan hasil telur hingga 80 persen. Pemberian pakan sekitar 4,5 persen tepung keong mas pada peternakan sapi potong juga memberikan hasil pertumbuhan yang cukup baik dan tingkat keuntungan paling tinggi dibandingkan pemberian pakan lain.
Sebagai pakan ikan, penggantian kandungan tepung ikan menjadi tepung keong mas sebanyak 25 hingga 75 persen memberikan pengaruh cukup baik terhadap laju pertumbuhan harian individu, efisiensi pakan, retensi protein, dan retensi lemak.

Keong mas juga berperan sebagai pengendali keong lain jenis Bulinus sp dan Biophalaria sp yang merupakan inang perantara parasit trematoda yang menyebabkan penyakit gatal-gatal dan schistosomiasis yang telah menginfeksi lebih dari 200 juta penduduk tropis. (November 21, 2008 – Ditulis oleh moechah)

III. Metode Penelitian
A. Subyek Penelitian
-Pembuatan bakso dari daging keong mas.
B. Obyek Penelitian
– Daging keong mas
C. Alat dan Bahan
Alat :
1. Baskom 2 buah
2. Panci besar 2 buah
3. Sendok makan 1 buah
4. Tusuk sate 1 buah
5. Penggiling daging
6. Kompor
7. Loyang
Bahan :
1. 300 gram daging keong mas
2. 500 gram tepung terigu
3. 45 gram tepung kanji
4. 1/2 butir putih telur
5. 2 siung bawang putih dihaluskan
6. 1 sendok teh garam
7. ½ sendok teh merica bubuk
8. 2 helai daun bawang
9. Air matang 50 ml
D. Cara Kerja Penelitian
1. Mencuci keong mas dengan air hingga bersih.
2. Merebus keong tersebut dalam air yang sudah mendidih selama 15 menit.
3. Angkat dan tiriskan keong diatas loyang.
4. Ambil daging keong dari cangkang menggunakan tusuk sate (sebaiknya pengambilan ketika keong belum dingin supaya lebih mudah). Masukkan dalam baskom.
5. Bersihkan kotoran keong dengan air dan di ambil dagingnya saja.
6. Giling 300 gram daging keong hingga halus. Lalu masukkan kedalam baskom.
7. Tambahkan 2 siung bawang putih yang sudah dihaluskan, 1 sendok teh garam, 1/2 sendok teh merica bubuk. Kemudian dicampur hingga merata dengan sendok makan.
8. Tambahkan 500 gram tepung terigu, ½ butir putih telur dan 2 helai daun bawang merah yang dicincang halus.
9. Masukkan 45 gram tepung kanji dan 50 ml air matang sedikit demi sedikit.
10. Lalu diuleni hingga adonan menjadi kalis (kurang lebih 30 menit).
11. Setelah itu bentuk adonan menjadi bulatan-bulatan.
12. Nyalakan kompor, rebus 10 L dengan panci besar air hingga mendidih.
13. Rebus bakso tersebut dalam air mendidih tersebut. Tunggu hingga bakso mengambang.
14. Angkat dan tiriskan.
E. Cara Analisis Penelitian
Nama Konsumen Tampilan Bau Rasa
Suka Tak Suka Suka Tak Suka Suka Tak Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: